Beranda

SELAMAT DATANG DI WEBSITE

IKATAN ALUMNI UNIVERSITAS PADJADJARAN

Foto bersama PP IKA Unpad beserta alumni pada saat serah terima kepengurusan

IKA Unpad Periode 2012 – 2016


Kepada seluruh Alumni Unpad apabila ingin memberikan Berita atau mempostingkan Artikel di Website IKA-Unpad, Dapat mengirimkannya melalui Email ika@unpad.ac.id

Terimakasih Banyak Kepada Akang/Teteh Alumni yang telah membantu dalam rangka penyusunan dan updating database Alumni Universitas Padjadjaran. Untuk Akang/Teteh yang belum mengisi, kami Pengurus Pusat IKA Unpad memohon bantuan dan kerja sama Akang/Teteh Untuk mengisi form yang telah kami sediakan, Akang/Teteh bisa mengisinya disini

Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

1502325_10201237453957609_578772910_o

Galeri Foto Rhino Funbike 2013 IKA Unpad Komda Banten

IKA UNPAD KOMDA BANTEN BEKERJASAMA DENGAN STAKE HOLDER MENYELENGGARAKAN RHINO FUNBIKE 2013

Baca lagi

1424293_10201047715974278_1596594748_n

Galeri Foto Khinatan Massal Anak Sholeh di Cilaja Pandeglang Banten

Bakti sosial khitanan masal anak sholeh merupakan perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi yang terselanggara atas kerjasama antara Alumni Unpad dengan Yayasan Ujung Wahanten, Hiwasi, BRI, RS Sari Asih Serang, Japfa Comfeed, Sierad Produce, dan Geh Banten Sumber : https://www.facebook.com/groups/311838175581123/

Baca lagi

Dr. Sapta Nirwandar, “Indonesia Punya Banyak ‘Surga Tersembunyi’ yang Belum Tergarap”

[Unpad.ac.id, 8/04/2014] Sektor pariwisata kini menduduki peringkat keempat sebagai pemasok devisa terbesar di Indonesia. Hal ini tentunya memberikan peluang besar bagi berkembangnya industri kreatif untuk meningkatkan pendapatan ekonomi yang berbasis pada pariwisata.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dr. Sapta Nirwandar, SE (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dr. Sapta Nirwandar, SE (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Demikian dikatakan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dr. Sapta Nirwandar, SE., saat menjadi keynote speaker dalam Studium Generale bertema “Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kreatif” di Bale Santika Unpad Kampus Jatinangor, Selasa (8/04). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Adminitsrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad. Selain Studium Generale, kegiatan ini juga diisi oleh Business Plan yang diikuti mahasiswa prodi Administrasi Bisnis.

“Meningkatnya sektor pariwisata memberikan peluang yang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif. Sebab, pariwisata secara global sudah menjadi bagian dari industri besar,” ungkapnya.

Selain Dr. Sapta, ada dua pembicara lain yang mengisi studium generale ini, yaitu Budi Isman (Founder Pro Indonesia/Smartpreneur) serta Arie Witjaksono (PT. Trans Retail Indonesia /Carrefour) dan dimoderatori oleh Yuszak M. Yahya (CEO Smartpreneur Community).

Diakui Dr. Sapta, 9% dari GDP (gross domestic product) Indonesia berasal dari sektor pariwisata. Apalagi Indonesia didukung dengan ragam kekayaan alam, budaya, biodiversitas, serta sejarah yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Selain itu, sektor pariwisata tidak dipengaruhi oleh krisis ekonomi, karena pariwisata sendiri sudah menjadi lifestyle atau basic need bagi seluruh orang.

Sebagai pejabat yang bergerak di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, ia menjelaskan di Indonesia masih banyak “surga tersembunyi” yang belum digarap secara maksimal. Oleh karena itu, di hadapan mahasiswa prodi Administrasi Bisnis, Dr. Sapta pun mengajak untuk “melirik” peluang industri kreatif di sektor pariwisata yang menurutnya selalu punya prospek tinggi.

Lantas, bagaimana cara menggabungkan industri kreatif dengan sektor pariwisata? Menurut Dr. Sapta, ada 3 aspek yang dilakukan oleh pelaku usaha, yaitu getkeep, dangrow. Aspek get, berarti bagaimana pelaku usaha dapat menarik turis, sedangkan keepberarti bagaimana pelaku usaha dapat membuat turis betah selama berkunjung ke destinasi, dan grow berarti bagaimana pelaku usaha dapat meningkatkan jumlah turis untuk datang ke destinasi tersebut.

“Industri kreatif pariwisata di Indonesia tidak akan pernah habis. Sebab, industri kreatif sendiri selalu punya value creation yang tinggi,” ujar Dr. Sapta yang juga sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (Ika Unpad) ini.

Sementara itu, Budi Isman yang juga bergerak di bidang konsultan bisnis memaparkan, memulai suatu usaha tidak hanya membutuhkan keberanian memulai saja. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, salah satunya yaitu memiliki teamwork yang kuat.

Menurutnya, suatu pelaku usaha paling tidak membutuhkan orang-orang seperti: penyumbang dana, mentor bisnis, investor, orang yang punya keahlian pada bidang bisnis yang akan digeluti, serta jaringan yang kuat.

“Hal lain yang juga ditekankan dalam berbisnis adalah kalian akan membutuhkan skillpengetahuan dan sikap yang benar untuk memulai usaha,” kata Budi.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

Bachti Alisjahbana, dr., Sp.PD-KPTI, PhD, “Unpad Harus Berkontribusi Turunkan Angka Penderita TB & HIV di Jawa Barat

[Unpad.ac.id, 3/04/2014] Sebagai negara dengan iklim tropis, Indonesia memiliki banyak penyakit infeksi yang berkembang. Seiring dengan ragam biodiversitas Indonesia, fenomena penyakit infeksi yang terjadi di suatu tempat akan berbeda jika ditemukan di tempat lainnya. Hal inilah yang menyebabkan para peneliti medis khsusunya banyak menemukan banyak hal terkait penyakit infeksi.

Bachti Alisjahbana, dr., Sp.PD-KPTI, PhD

Bachti Alisjahbana, dr., Sp.PD-KPTI, PhD (Foto oleh: Dadan T.)*

Meskipun penyebarannya cukup tinggi, penyakit infeksi dapat dicegah. Berbeda dengan penyakit lainnya, penyakit infeksi  tergolong kategori menular sehingga dapat ditelusuri alur penyebarannya. Hal inilah yang menjadi kajian menarik bagi Bachti Alisjahbana, dr., Sp.PD-KPTI, Ph.D., dokter ahli penyakit dalam dan infeksi yang juga sebagai dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Unpad.

“Penyakit infeksi itu beda dengan penyakit semisal diabetes dan jantung. Kita susah mencegahnya karena itu berhubungan dengan perilaku manusia,” jelas dr. Bachti.

Menurutnya, penyakit seperti HIV dapat dicegah asalkan masyarakat tahu bagaimana cara pencegahannya, seperti hindari penggunaan jarum suntik secara bersamaan, atau penggunaan alat kontrasepsi. Khusus untuk HIV, dr. Bachti telah menghasilkan penelitian mengenai bagaimana strategi diagnostic melalui rapid test. Diakuinya, penggunaan rapid test dalam perawatan pasien yang terkena virus HIV cukuplah efektif.

Rapid test sendiri sebenarnya bukan merupakan metode baru untuk perawatan HIV. Namun, pihaknya sudah mengoptimalisasikan metode tersebut sehingga lebih cocok untuk diimplementasikan di Indonesia. “Ini yang menjadi tantangan, bagaimana kita membuat orang lain memakai metode kita,” tambahnya.

Namun, untuk penyakit TB, pencegahan yang dilakukan cukup rumit karena TB sudah menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Penyebarannya pun dilakukan dari mulut ke mulut. “Saat ini, hampir 50% pasien TB itu berobatnya ke dokter umum, jadi kurang tercatat. Pencegahan yang paling baik adalah pendekatan ke keluarganya. Jika ada anggota keluarga kena TB, seluruh keluarganya harus di-screening juga,” paparnya.

Di sisi akademik, penelitian mengenai TB dan HIV pun harus ditingkatkan. Pemerintah, menurut dr. Bachti, harus aktif melihat semua penelitian yang telah dilakukan untuk mampu menanggulangi tingginya penyakit tersebut. “Kita sudah punya teknologi untuk mencegah penyakit infeksi ini. Jika memang kita belum bisa menanggulangi, maka kitanya yang kurang berusaha,” ujar dr. Bachti.

Sejak 2000, dr. Bachti telah melakukan penelitian terkait penyakit Tuberculosis (TB). Baru pada 2007, ia bersama peneliti lainnya melakukan penelitian terkait virus human immunodefiency virus (HIV). Selain itu, ia pun banyak melakukan penelitian mengenai penyakit infeksi lain, seperti malaria dan demam berdarah.

Penelitian yang dilakukannya terfokus pada diagnosis dan upaya peningkatan kualitas pengelolaan penyakit infeksi di Indonesia. Dari penelitiannya tersebut, sekitar 36 judul penelitiannya masuk ke publikasi internasional. Ia pun banyak melakukan kerja sama penelitian dengan institusi asing, seperti Radboud University Nijmegen di Belanda, dan University of Otago di Selandia Baru. Selain itu, ia juga mendapatkan dana hibah dari European Union untuk penelitian mengenai HIV dan TB.

Selain aktif mengajar, dr. Bachti juga merupakan koordinator dari Laboratorium Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) FK Unpad serta ketua dari Pusat Studi TB_HIV FK Unpad. Melalui LPPM FK Unpad, dr. Bachti dan tim pun menyusun program “Hidup Bersama Sahabat” (Hebat).

Program “Hebat” ini merupakan kurikulum pencegahan HIV yang dikembangkan sesuai dengan kondisi aktual di kota Bandung, dengan mengombinasikan pencegahan penyalahgunaan narkoba (drug education) dan kesehatan reproduksi (reproductive health education).  Materi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan hak remaja.  Saat ini, sudah 24 SMP di Kota Bandung yang melaksanakan kurikulum program ini.

Program ini pun berhasil meraih penghargaan Indonesia MDG Awards (IMA) 2012 untuk kategori tema Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Lainnya untuk kategori peserta organisasi pemuda/akademisi pada Maret 2013 lalu.

Meneliti adalah aktivitas yang tidak lepas darinya. Saat ini, dr. Bachti menargetkan akan menghasilkan teknologi  yang mendeteksi penyebab demam pada saat hari pertama dirawat. Selain itu, harapan dr. Bachti saat ini adalah ingin angka penyakit TB dan HIV / AIDS di Jawa Barat dapat turun, mengingat Jawa Barat menduduki peringkat sebagai provinsi tertinggi sebagai penderita TB  di Indonesia.

“Saya ingin Unpad dapat berkontribusi menurunkan angka TB di Jawa Barat,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

Kolaborasi adalah Kekuatan Dahsyat untuk Perubahan

[Unpad.ac.id, 2/04/2014] Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat sekaligus penggagas Diaspora Indonesia, Dino Patti Djalal memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Unpad, Selasa (1/04) kemarin. Kuliah umum bertema “Dari Reformasi ke Elevasi: Budaya Unggul Sebagai Kunci Sukses Indonesia di Abad ke-21” ini digelar di Bale Sawala Unpad, Jatinangor.

Dino Patti Djalal saat memberi kuliah umum di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (1/04) kemarin. (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Dino Patti Djalal saat memberi kuliah umum di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (1/04) kemarin. (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Pada kesempatan tersebut, Dino memperkenalkan beberapa konsep yang sedang berkembang saat ini untuk kesuksesan Indonesia. “Dulu konsep yang berkembang adalah konfrontasi, kemandirian, kedaulatan, dan kesatuan.  Sekarang agak berbeda konsepnya. Konsep-konsep paling operasional yang paling akan kita lihat di dunia internasional itu kolaborasi, kompetisi, koneksitas, dan keunggulan,” ujarnya.

Dino mengatakan bahwa dalam era sekarang, orang-orang bisa secepat dan sehebat mungkin mengubah nasibnya. Berdasarkan data dari Bank Dunia, sekitar 7 juta orang miskin di Indonesia masuk ke kelas menengah setiap tahunnya.  Hal ini menunjukkan bahwa sekarang jauh lebih banyak orang yang bisa mengubah nasibnya ketimbang dulu.

Menurutnya, dunia kini bukan hanya borderless, melainkan limitless. Kita harus siap menghadapi dunia di abad 21 ini. Untuk itulah diperlukan alat untuk menghadapinya, salah satunya adalah kolaborasi. Dino mengatakan bahwa sekarang kolaborasi sudah terjadi dimana-mana.  Kolaborasi kini menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat untuk suatu perubahan.

“Kalau diplomasi kita mau dengan dunia yang penuh dengan kolaborasi, maka susah kalau kita terlalu anti asing, takut melihat dunia. Susah kalau kita terlalu curiga, punya mental yang selalu dikepung, mental yang selalu merasa diekploitasi oleh asing,” tuturnya.

Konsep penting selanjutnya yaitu kompetisi. Menurut Dino, kompetisi di dunia, terutama di Asia akan semakin ketat. Ia mengatakan bahwa reposisi akan semakin cepat. Perubahan pada 10 tahun ke depan akan lebih cepat daripada perubahan 100 tahun ke belakang.  Sekarang, banyak negara/pihak yang tadinya tidak berani menjadi berani, yang tadinya tidak percaya diri menjadi sangat percaya diri dengan menunjukkan something new.

Dino juga mengatakan bahwa kita harus sangat hati-hati dan peka terhadap keunggulan kita. Ia mengungkapkan bahwa negara yang tadinya ada di belakang kita, sekarang mulai mengejar kita. Untuk itulah diperlukan perubahan mental, dari tidak percaya diri dan melihat dunia sebagai suatu ancaman, menjadi sebagai  suatu peluang.

Terkait koneksitas, Dino mengungkapkan koneksitas akan sama pentingnya dengan kedaulatan.  Koneksitas juga dapat menjadi faktor penentu keunggulan suatu bangsa. Dino menuturkan bahwa salah satu hal yang menyebabkan Indonesia dulu lama dijajah adalah karena  nenek moyang kita tertutup dari koneksitas. Jangankan ke negara luar, dari satu kerajaan ke kerajaan lain di Indonesia pun tidak  saling terkoneksi.

Selanjutnya, Dino menuturkan bahwa kita harus mencari rumus-rumus ideologi keunggulan kita. Dino menyebutkan bahwa ini adalah tantangan Indonesia di abad 21. Dengan demikian, dibutuhkan orang-orang yang berani mengambil peluang dan resiko, serta open minded. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana /  eh *

Unpad dan Bank Indonesia Kaji Sistem Logistik Pangan Berbasis Transportasi Kereta Api

[Unpad.ac.id, 28/03/2014] Dalam upaya mencari solusi permanen atas tingginya tingkat inflasi komoditas pangan yang disebabkan oleh tingginya biaya logistik, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unpad bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat-Banten dan Forum Koordinasi Pengendali Inflasi (FKIP) melaksanakan “Conference Series on Managing Inflation: Sistem Logistik Pangan Berbasis Transportasi Kereta Api” di Bale Pasundan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat – Banten, Bandung, Rabu (26/03).

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, saat menyampaikan kata pengantar pada “Conference Series on Managing Inflation: Sistem Logistik Pangan Berbasis Transportasi Kereta Api” di Bale Pasundan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat – Banten, Rabu (26/03) *

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, saat menyampaikan kata pengantar pada “Conference Series on Managing Inflation: Sistem Logistik Pangan Berbasis Transportasi Kereta Api” di Bale Pasundan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat – Banten, Rabu (26/03) *

Konferensi tersebut dihadiri oleh 200 orang yang merupakan perwakilan dari kantor perwakilan Bank Indonesia se- Pulau Jawa, Tim Pengendali Inflasi Daerah se-Pulau Jawa, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, PT. Kereta Api Indonesia, PT. Kereta Api Logistik, PT. Pos Indonesia, Akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, berbagai asosiasi pelaku usaha dan perbankan.

Bertindak sebagai keynote speaker pada acara tersebut yaitu Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas. Ronald memaparkan pentingnya pengembangan sistem logistik pangan nasional dalam pengendalian inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan yang tinggi. Menurutnya, transportasi kereta api menjadi pilihan utama moda transportasi dalam pengembangan sistem logistik pangan nasional karena biayanya lebih murah, tepat waktu, dan aman.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia  memberikan pengantar konferensi mengenai “Model Triple Helix dalam Pengembangan Sistem Logistik Pangan Nasional”.  Ia menyampaikan bahwa kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan pelaku usaha merupakan komponen pokok dalam mengatasi kompleksitas permasalahan dalam pengembangan sistem logistik pangan nasional.

Dalam sesi panel , dibahas tentang kebijakan sistem logistik nasional produk pangan strategis. Dr. Kuncoro Harto Widodo yang mewakili tim Sistem Logistik Nasional memaparkan mengenai cetak biru sistem logistik nasional. Pengmbangan sistem distribusi komoditas pangan strategis menjadi pokok pembahasan yang disampaikan oleh Dirjen Perdagangan Dalam Negeri. Sedangkan Direktur Pemasaran Domestik Kementerian Pertanian menyoroti masalah sistem pemasaran hasil pertanian yang belum efisien dan berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Sementara itu, Dr. Tomy Perdana mewakili Unpad serta Masyarakat Logistik dan Rantai Pasok Indonesia memaparkan analisis dan kajian efisiensi sistem logistik pangan berbasis trasportasi kereta api.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi sesi panel II yang membahas mengenai implementasi dan rencana aksi sistem logistik nasional produk pangan strategis.  Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api,  Hanggoro Budi Wiryawan membahas pengembangan infrastruktur transportasi kereta api dalam sistem distribusi komoditas pangan strategis. Pembicara lain, Hendy Helmy selaku VP Pemasaran PT. Kereta Api Indonesia memaparkan peran kereta api dalam sistem logistik pangan nasional. Sementara Eddy Sudiarto selaku Direktur Pengembangan Bisnis PT. Kereta Api Logistik membahas peluang dan tantangan bisnis layanan logistik pangan berbasis transportasi kereta api. Pada bagian akhir sesi panel II, VP Divisi Logistik PT. Pos Indonesia Bagbang Suherman, memaparkan peranan PT. Pos Indonesia dalam membangun bisnis layanan logistik pangan di pedesaan.

Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan rumusan bersama pengembangan sistem logistik pangan berbasis transportasi kereta api. Seluruh perwakilan dari Bank Indonesia, perwakilan pemerintah pusat dan daerah, perwakilan akademisi dan praktisi logistik, perwakilan PT. Kereta Api Indonesia, PT. Kereta Api Logistik, PT. Pos Indonesia, PT. Cikarang Dry Port, dan perwakilan asosiasi pengusaha sepakat atas rumusan bersama yang dihasilkan. Rumusan bersama tersebut akan disampaikan kepada pemerintah pusat dan ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok kerja (working group) Sistem Logistik Pangan Nasional.*

Rilis oleh: Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Faperta Unpad / art*

Dr. Eng. I Made Joni, MSc, “Teknologi Nano Bisa Atasi Krisis Energi Bangsa Ini”

[Unpad.ac.id. 4/03/2014] Krisis energi yang melanda Indonesia menjadi tanggung jawab bersama. Melakukan aksi hemat energi dan mencari sumber energi alternatif mendesak untuk segera dilakukan. Hal inilah yang ingin segera diwujudkan oleh  Dr. Eng. I Made Joni, M.Sc., staf pengajar jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad.

Dr. Eng. I Made Joni, M.Sc (Foto oleh: Dadan T.)*

Dr. Eng. I Made Joni, M.Sc (Foto oleh: Dadan T.)*

“Dengan memanfaatkan teknologi nano, masalah krisis energi dapat diatasi. Mengapa? Karena teknologi nano dapat diterapkan pada seluruh sektor rantai super energi, anatara lain sumber energi, konversi energi, distribusi energi, penyimpanan energi dan pemanfaatan energi,” ujar I Made saat ditemui di ruang kerjanya di jurusan Fisika FMIPA Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor, belum lama ini.

I Made Joni memaparkan, bahwa pemanfaatan teknologi nano pada sektor energi cukup banyak, diantaranya super konduktor untuk motor, dye soloar cells, dan polymer solar cells. Selain itu, iapun menjelaskan bahwa dengan menggunakan teknologi ini dapat meningkatkan atau membuat kinerja sebuah alat menjadi lebih optimal.

“Dan dengan teknologi ini, kita juga dapat melakukan efisiensi energi. Seperti pada lampu LED, kita bisa hemat energi 20%, kemudian daya tahan atau umurnya juga lebih panjang,” jelasnya.

Penelitian terkait teknologi nano ini mulai ia lakukan sejak melanjutkan studi S3 di Hiroshima University, Jepang. Hingga saat ini, kepala Laboratorium Sistem Instrumentasi dan Pemrosesan Fungsional Program Studi Fisika FMIPA Unpad ini terus melakukan penelitian beserta tim dari jurusan Fisika FMIPA Unpad. Bersama Dr. Eng. Camellia Panatarani, M.Si., misalnya, mereka bekerja sama mengembangkan artificial lighting.

Tidak hanya itu, sudah hampir setahun ini ia juga bekerja sama dengan PT. Grafindo Nusantara terkait dengan penelitian mengenai potensi grafit di Indonesia.  Grafit sendiri merupakan batuan yang ada di Indonesia. Kerja sama ini untuk mengolah grafit sampai kepada pemurnian dan produk berupa baterai untuk menyimpan energi.

“Saya bekerja sama dengan perusahaan mineral ini mengembangkan grafit menjadi grafin yang kemudian menjadi nano. Kemudian mereparasi material nano tersebut, dan mengintegrasikannya ke dalam sistem energi yang kemudian menjadi baterai,” jelas Made Joni.

Selain mendapatkan dukungan penuh dari PT. Grafindo Nusantara, ia pun mendapatkan dana Penelitian Unggulan Strategis Nasional (PUSNAS).  Keunggulan penelitian ini menurutnya karena ada kerjasama dengan industri. Selain itu bahan baku yang digunakan tersedia di alam Indonesia dan ada benefit ekonomi secara nasional yaitu teknologi yang memiliki prospek secara nasional.

Tak heran apabila dalam mengembangkan penelitiannya tersebut, Made Joni pun di dukung dengan alat-alat yang cangih dan modern. “Untuk membuat skala besar material nano dan elektronik tadi, maka dibutuhkan alat pabrikasi seperti pada industri, terkontrol dengan komputerisasi (SCADA),” imbuhnya.

Saat ini, ia sedang bekerja keras untuk segera menyelesaikan dan merealisasikan dalam pembuatan baterai tersebut. Selain menyiapkan materi bahan bakunya, ia juga sedang mendesaian model baterainya. Untuk membuat cetakan baterai tersebut, ia pun mendapatkan batuan dari PT. Grafindo Nusantara printer 3D untuk cetakan baterai.

Dengan ditemukannya ini, I Made Joni pun yakin ke depan baterai tidak akan impor lagi karena semua materi dan bahan baku benar-benar ada dari alam Indonesia. ”Kunci dari teknologi itu ada pada bahannya. Apabila kita kuasai bahannya, teknologi lain akan mengikuti dan berkembang,” lanjutnya.

I Made Joni menjelaskan, saat ini ia juga sedang menemukan dan mengembangkan alternatif sumber energi baru, yaitu air laut. Ia pun menjelaskan air laut bisa dikonversi menjadi listrik, dan listrik yang dihasilkan sebanding dengan solar cells.

“Kita mampu membuat elektroda yang mengumpulkan listrik dari air laut. Dan sekarang lagi dibikin cell yang banyak dari bahan alam tadi sehingga nanti kita bisa gunakan untuk perahu nelayan,” jelasnya.

Penemuannya ini sudah berhasil dan sudah dicobakan di mesin boat bantuan PT. Grafindo Nusantara. Tahapan sekarang sedang manufakturing mendesain sekompleks mungkin tampilan baterai dan rancangan boat yang semua ada elektrodanya untuk mengisi baterai.

“Dalam waktu dekat teknologi ini juga akan kita launching,  saat ini sudah pada tahapanmanufacturing. Dan boat ini nanti diperkirakan dapat digunakan selama 5 jam,” pungkasnya. *

Laporan oleh: Purnomo Sidik / eh *